WAYANG KULIT SEBAGAI PRODUK UNGGULAN DESA KEPUHSARI




WAYANG KULIT SEBAGAI PRODUK UNGGULAN DESA KEPUHSARI

Di zaman modern, masyarakat semakin banyak dihadapkan dengan banyak pilihan hiburan. Arus hiburan modernis yang cukup santer akhir-akhir ini perlahan meminggirkan produk seni dan budaya lokal. Salah satunya wayang kulit. Padahal, wayang kulit adalah salah satu seni budaya adiluhung Nusantara peninggalan nenek moyang yang bernilai tinggi. Satu yang jarang diketahui publik tentang wayang kulit adalah di mana pusat produksinya. Siapa dan bagaimana bisa produksi wayang kulit hingga kini masih bertahan. Bagi yang tidak menggeluti atau akrab dengan dunia wayang kulit, mungkin tidak tahu kalau Kabupaten Wonogiri adalah salah satu daerah penghasil wayang kulit. Pusatnya, ada di Desa Kepuhsari Kecamatan Manyaran. Seni Tatah Sungging Keberadaan industri rumahan kerajinan wayang kulit di Kepuhsari tak lepas dari peran anak keturunan “Ki Panjang Mas” di Kepuhsari. Panjang Mas adalah salah satu tokoh dari Kerajaan Mataram Islam yang menyebarkan agama dengan wayang. Ilmu pewayangan, khususnya seni “tatah sungging” yang dimiliki Ki Panjang Mas diperolehnya dari Raden Mas Said, raja Mangkunegaran pertama. Menurut cerita warga, anak keturunan Ki Panjang Mas inilah yang kemudian babat alas, menyebarkan seni pewayangan dan tatah sungging di Desa Kepuhsari. Beberapa tokoh Kepuhsari yang diyakini sebagai keturunannya yaitu Ki Kondobuono, Ki Gunowasito, Ki Prawirodiharjo. Dari Ki Prawirodiharjo kemudian lahir delapan anak yang semuanya menjadi dalang. Hingga saat ini, ada ratusan pengrajin wayang kulit berbasis rumah tangga. Memang jumlah pengrajin wayang kulit saat ini tak sebanyak di era 80-an di mana pada saat itu wayang kulit sebagai komoditas ekonomi mencapai zaman keemasannya. Di era 90-an, apalagi setelah Indonesia terpukul badai krisis moneter, produksi wayang kulit menurun. Pada saat itu, banyak pengrajin yang bermigrasi matapencaharian dan merantau ke luar daerah dan luar negeri. Upaya pelestarian wayang kulit di Desa Kepuhsari salah satunya diperankan oleh Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis). Pokdar wis adalah kelembagaan kemasyarakatan desa besutan program pemerintah kabupaten yang konsentrasi pada pemberdayaan dan pengembangan wisata desa. di Kepuhsari, Pokdarwisnya bernama “Tetuka”. Anggota Pokdarwis pada umumnya mengembangkan sanggar. Salah satu contohnya Ibu Retno, sekretaris Pokdarwis mengembangkan sanggar bernama “Asto Kenyo Art”.  dikatakan cukup berhasil membranding Kepuhsari sebagai pusatnya produksi ekonomi kreatif dan pembelajaran tentang wayang kulit. Keberhasilan branding ini, paling tidak tertandai dengan keberhasilnya menarik wisatawan dari domestik hingga negeri manca. Menurut, cerita warga setempat, beberapa negeri manca yang pernah berkunjung, Amerika, Jepang, Korea dan Belanda. Tidak hanya itu, sebagaimana pernah dinyatakan Ibu Retno, Pokdarwis Tetuka membangun korespondensi dengan pihak manapun yang peduli ataupun sekadar ingin belajar tentang wayang. Caranya dengan membuka program volunteer. Program tersebut dipublikasikan melalui berbagai piranti media cyber seperti media sosial. Uniknya, program volunteer ini sengaja dirancang sebenarnya siasat untuk mengatasi keterbatasan anggaran untuk membuat kegiatan demi meningkatkan kapasitas penduduk sebagai bagian dari elemen penting kampung wayang. Volunteer atau wisatawan yang berminat dapat menyumbangkan kemampuan yang dimilikinya, misalnya kemampuan berbahasa asing, kuliner, web design, public speaking, manajemen keuangan dan lain sebagainya. Sebagai timbal baliknya, sang volunteer dan wisatawan mendapatkan pembelajaran pengetahuan dan keterampilan tentang wayang kulit. Penerapan konsep ini ternyata, selain cukup jitu menarik perhatian wisatawan, juga efektif meningkatkan pertukaran pengetahuan sehingga satu sama lain meningkat kapasitasnya. Beberapa peneliti, wisatawan dan volunteer yang pernah datang ke Kepuhsari tercatat berasal dari dari negeri manca seperti Amerika, Perancis dan Belanda. Melestarikan Kampung Wayang Selain menikmati indahnya Desa Kepuhsari, para wisatawan dapat belajar tentang wayang, mulai dari soal sejarah sampai dengan berlatih membuat wayang kulit yang meliputi praktik memahat wayang kulit, membuat pola dan mewarnai wayang. Di Kepuhsari sendiri ada tujuh dalang yang berperan aktif menjadi narasumber pewayangan atau mentor pedalangan bila dibutuhkan saat para wisatawan hendak belajar darinya. Bila anda ingin bermalam atau tinggal beberapa hari di Kampung Wayang ini, masyarakat setempat telah menfungsikan rumahnya sebagai homestay. Salah satu pengrajin wayang kulit yang aktif melestarikan Kampung Wayang adalah Bapak Sutarno. Dalam satu bulan, Sutarno memroduksi wayang kuliat dengan nilai omset mencapai puluhan juta rupiah. Produk wayang yang diselesaikan setiap bulannya meliputi wayang putihan yaitu wayang kulit yang belum diwarnai dan wayang jadi yaitu wayang kulit yang sudah full color. Dalam satu bulan, Sutarno rata-rata memroduksi 15 buah wayang putihan dengan harga satuan 200 ribu s/d 300 ribuan. Dari 15-an wayang putihan, dalam satu bulan biasanya terjual 10 buah. Untuk wayang jadi, dalam satu bulan rata-rata hanya mampu memroduksi lima buah. Hal ini tentu terkait dengan tingkat kesulitan yang lebih rumit dari pada sekadar membuat wayang putihan. Harga satuan rata-rata untuk wayang kulit yang sudah jadi Rp.800-an ribu hingga Rp.2 juta. Pelanggan pak Sutar, demikian biasa akrab dipanggil, berasal dari Jakarta, Wonogiri, Batu, Malang, Semarang. Sesekali mendapat pesanan dari luar negeri. Menjelang ASEAN Games 2018, para pengrajin wayang kulit di Kepuhsari dan sekitarnya, termasuk Sutarno, kebanjiran pesanan. Kementerian Pemuda dan Olah Raga RI memesan ribuan undangan berikut pernak-pernik cindera mata. Tak tanggung-tanggung harga satu undangan bisa mencapai ratusan ribu rupiah. Disadari atau tidak, saat ini menjadi pengrajin wayang kulit adalah bagian dari mata pencaharian penduduk, meski sebagian besar juga masih menerjunkan diri sebagai petani sawah. Namun dari sudut pandang kebijakan ekonomi, pemeritah desa saat ini belum memerhatikan secara lebih seksama pada sektor seni budaya wayang kulit. Masyarakat, khususnya para pegiat kerajinan wayang selama ini hidup dalam topangan prakarsa dan modalitas mereka sendiri. Bila diukur dari penyertaan anggaran pembangunan, baru di tahun anggaran (APBDesa) tahun 2018, Pemerintah Desa Kepuhsari mengalokasikan anggaran yang dialamatkan untuk mendukung pengembangan Kepuhsari sebagai Kampung Wayang. Dana sebesar Rp.20-an juta dari pos Dana Desa disiapkan untuk membangun gapura yang berdisainkan wayang di jalan masuk desa. Dengan gapura ini, diharapkan akan menguatkan daya tarik dan artistik Kepuhsari, dan juga memudahkan para wisatawan mengetahui lokasi sentra produksi wayang kulit. Meski terkesan terlambat, inisiatif pemerintah desa tersebut perlu diapreasi. Terlebih, dapat kita maklumi, sebelum pemerintah pusat melaksanakan kebijakan DD, tak terkecuali Desa Kepuhsari tak memiliki anggaran yang cukup. Jangankan untuk membiayai pengembangan wayang, untuk membangun infrastruktur sosial dasar desa yang berkualitas tidak memadai. Sekali lagi perlu diapresiasi karena, dalam perencanaan pembangunan tahun berikutnya, Pemerintah Desa Kepuhsari mengarahkan pendulum pembangunan desa pada pemberdayaan dan pengembangan wayang sebagai produk unggulan desa. Arah kebijakan tersebut tak lepas dari peran dan partisipasi masyarakat pegiatan wayang yang getol menyuarakan kebutuhan pengembangan wayang dalam forum-forum musyawarah desa maupun musyawarah perencanaan pembangunan desa setiap tahunnya. Link Vidio dapat di Lihat di Yutube: https://www.youtube.com/watch?v=rLpcyPeuyfs&t=127s

 Writer : Cahyo Putro - Sumber : Warta Inovasi Desa. 

 

Menurut anda, apakah isi website ini bersifat informatif?

Pilih
  • Pengunjung (8770 Kunjungan)
  • Hits (8770 Kunjungan)
  • Hari Ini (9 Kunjungan)
  • Kemarin (33 Kunjungan)
Dinas Pemberdayaan Masyarakat Desa Kabupaten Wonogiri

Alamat: Giripurwo, Kec. Wonogiri, Kabupaten Wonogiri, Jawa Tengah 57612
Email: -
Telepon : (0273) 321002